BAGIAN I UN (UJIAN NASIONAL), JANGAN JADI AJANG CURANG

14 Apr 2011

0 komentar
05-09 April 2011
Tak terasa, ujian nasional hampir tiba lagi, bahkan sudah amat dekat dan buat deg-degan, bukan hanya buat para pelajar, tapi bagi orang tua mereka juga. Sekarang tentu para pelajar yang akan menghadapi HARI BESAR mereka, sedang sibuk belajar di rumahnya atau di tempat bimbingan belajar, sibuk bertanya pada guru dan teman-temannya yang lebih pintar, sibuk cari soal-soal ujian tahun lalu, lagi hunting buku-buku rumus praktis, atau bahkan lagi sibuk CARI

MENINGGALKAN DUNIA TULIS-MENULIS FIKTIFKU

1 Apr 2011

0 komentar


Entah dari mana awalnya aku harus menceritakan ini. Kadang-kadang ada suatu rasa rindu yang tidak bisa kuungkapkan seperti biasanya aku mengungkapkan segalanya lewat kata-kata. Tapi, kerinduan ini sebenarnya tak semestinya aku rasakan. Karena, aku meninggalkannya memang karena betul-betul dengan niat untuk taat kepada ALLAH Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan yang menyertainya.


Yah, memang jika terlalu lama bersama sesuatu maka ketika kita meninggalkannya, suatu hari kita bisa saja merindukannya. Huff..., aku bertahun-tahun (dari kecil) bergelut dengan angan-angan, membayangkan banyak hal di kepalaku. Bisa dibilang aku adalah orang yang memiliki imajinasi yang sangat tinggi. Aku suka memikirkan hal-hal di luar yang biasa dipikirkan orang lain pada umumnya. Bahkan kadang-kadang orang di sekitarku menganggap yang kukatakan agak aneh. Yah, aku suka memikirkan sesuatu di balik sesuatu. Itulah juga yang menyebabkanku menjadi penulis cerita fiktif. Dari kecil aku suka menulis cerita apa saja dan puisi apa saja. Dari kecil aku juga selalu menulis buku harian, bahkan sampai hari ini. Sejak SMP kelas satu, aku telah menulis tujuh buah novel, baru satu yang kurampungkan dan yang lainnya masih setengah. Karena, mungkin aku memiliki terlalu banyak ide gila yang harus kutuliskan. Aku juga sudah menulis ratusan puisi, puluhan syair, dan puluhan cerpen. Di sini aku bukan ingin membanggakan diri atau yang semacamnya, tapi semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua.


Menulis membuatku bisa mengeluarkan seluruh hal yang ada di kepalaku. Karena ketika aku menyimpannya, serasa itu tak ada artinya. Dan, mungkin di situlah aku merasakan kenikmatan yang begitu hebat.


Sejak kecil aku termasuk orang yang tidak suka menceritakan semua yang aku rasakan dan yang aku pikirkan (kecuali saat ini, setelah aku rutin tarbiyah aku menjadi orang yang supel). Aku sering mengobrol dengan teman-teman, hanya mengenai apa yang telah aku baca, berita apa yang aku lihat di TV, apa yang aku alami, sebatas itu saja. Tapi, pikiranku yang melanglang buana??? Lewat menulis, segala perasaanku tentang sesuatu, segala pendapat-pendapatku, segala imajinasiku, aku tuangkan ke dalam tulisan-tulisanku.


Menulis telah memberikanku kepuasan tersendiri. Bahkan dalam tiap harinya aku harus menulis sesuatu. Entah itu puisi, cerpen, atau menyambung novelku. Tapi, pada akhirnya aku harus meninggalkan seluruh dunia imajinasiku ke alam nyata. Karena, aku ada di dunia yang nyata, tidak seperti yang orang tasawwuf bilang, bahwa kita ini (makhluk) belum tentu nyata (aku mengetahui hal ini karena pernah mendengar dari seorang uztads yang beraliran tasawwuf) .


Baiklah, kali ini aku ingin bercerita, betapa sulit meninggalkan dunia fiktif-ku.

Mungkin mulai dari hobiku membaca apa saja dari kecil, bungkusan kecap, koran bekas, buku cerita di sekolah yang dulunya kakekku sebagai kepala sekolahnya, bungkusan bumbu penyedap, pamflet-pamflet di dinding, tulisan berjalan di televisi, brosur-brosur, iklan-iklan di jalan, semuanya, aku baca satu-persatu, setiap karakter. Bahkan aku lupa sejak kapan aku sudah mulai bisa membaca dan kapan sebenarnya aku belajar membaca? Waktu masuk TK aku ingat sekali aku telah lancar membaca. Pernah kutanyakan kepada bapakku, sejak kapan sebenarnya aku bisa membaca? Karena seingatku aku sudah bisa membaca sebelum TK, aku biasa ke perpustakaan di sekolah kakek dan membaca buku-buku cerita yang ada di sana.


Bapakku pun menjawab diawali dengan sebuah cerita pendek:

“Dulu waktu bapak menemani kamu waktu kecil ke puskesmas, bapak sering menyuruhmu membaca poster di dinding, dan kamu membacanya dengan lancar.”

“Kalau begitu, sejak kapan aku mulai bisa membaca, siapa yang mengajariku?” tanyaku penuh rasa penasaran.

“Yang pertama kali mengajari kamu, ya, mama kamu. Dari kecil kalian semua itu sudah diajari mengenal huruf dan diajari membaca.”

Hmm..., ternyata mamaku tersayang yang telah mengajarku sejak kecil? Hebat, kan? Mamaku itu cuma tamatan SMP, tapi memiliki anak-anak yang sudah bisa membaca sejak kecil. Aku sungguh bersyukur pada ALLAH Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Baik telah memberiku mama yang hebat.


Hum..., sebenarnya terlalu jauh mukaddimah tulisan ini.

Duduk di SD aku mulai menulis buku

VIRUS YANG BERNAMA FUTUR

30 Mar 2011

0 komentar

Tanggal 17 Maret 2011 lalu, aku tarbiyah di sebuah Mushollah yang namanya sama dengan namaku, Asy-Syifaa’. Wah, mungkin hari itu adalah hari pertama aku bertarbiyah dengan halaqah yang paling besar, 19 akhwat.



Salah satu yang dibahas oleh murobbiyahku tentang naik-turunnya keimanan. Sebagaimana yang kita tahu bahwa iman itu bisa naik-turun, iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dan, itu juga yang terjadi pada seorang akhwat di kampus saudariku.



Entah siapa akhwat itu, tentu kisah ini hanya untuk diambil ibroh-nya, dan bukan untuk menggibah saudari seagama. Ia adalah seorang akhwat yang baik akhlaknya. Murobbiyahku mengenalnya dengan baik. Murobbiyahku tahu tahapan-tahapan ketika ia menahapi hidayah yang ia dapatkan. Murobbiyahku sangat menyayanginya terlihat ketika ia bercerita tentang akhwat itu.



Akhwat itu adalah seorang yang bagus agamanya, bagus pakaiannya sebagai seorang Muslimah—berjilbab panjang menutupi seluruh tubuhnya. Ia bahkan adalah seorang penda’wah. Telah mengajarkan banyak ilmu kepada akhwat lainnya. Ia adalah seorang murobbiyah di sebuah halaqah. Memiliki mutorobbiyah-mutorobbiyah yang haus akan ilmu agama.



Tapi, innaliLLAHI wa innailayhi roji’un, akhwat itu berubah drastis. Murobbiyahku berkisah begini:



“Waktu itu aku sedang berada di suatu tempat di kampus. Aku tiba-tiba melihat akhwat itu. Sebelumnya, aku kira akhwat itu bukan dia, mungkin hanya mirip. Lalu, aku bertanya kepada akhwat lain, apakah akhwat itu benar dia? Dan aku mendapati jawaban yang begitu menekan hatiku, ternyata benar, akhwat itu adalah dia. Beberapa akhwat ternyata telah mengetahui itu sebelumku. Aku kenal baik dengan akhwat itu. Aku bahkan melihat tahapan-tahapan yang dilewatinya. Bahkan, dia telah memakai jilbab yang syar’i dan telah menjadi murobbiyah. Tapi, waktu aku melihatnya hari itu, aku benar-benar kaget. Khimar yang dulu berada di dalam jilbab panjangnya kini ada di luar. Bahkan tipis, dan hampir melewati dadanya, pendek sekali,” kata murobbiyahku dengan nada yang terdengar sedih, lalu bertambah sedih ketika ia berkata, “Dia seorang murobbiyah, dia punya mutorobbiyah-mutorobbiyah yang belajar padanya. Bagaimana jika mutorobbiyahnya melihatnya berubah seperti itu?”



Seorang akhwat se-liqo’-ku bertanya, “Siapa dia Kak?”



“Kita tidak perlu tahu siapa akhwat ini, kita sepatutnya mengambil hikmah apa yang bisa dipetik dari kisah akhwat ini. Mari kita berdo’a buat saudari kita itu, semoga dia diberi hidayah kembali dan diberi yang terbaik dari ALLAH Azza wa Jalla. Jadi, iman itu kita bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan ketaatan atau malah berkurang dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Makanya, kita harus banya-banyak bermuhasabah. Waktu kita pertama belajar Islam dengan serius, kita pasti merasakan nikmatnya ibadah-ibadah kita, kita haus akan ilmu. Tapi, setiap orang itu bisa futur. Jadi, ketika kita tidak bisa menikmati ibadah kita lagi, saat itu kita harus banyak-banyak bermuhasabah. Salah satu caranya, kita harus memperhatikan al-Quran, karena ALLAH tidak akan mengazab orang-orang yang memperhatikan al-Quran. Salah satu cara memperhatikan al-Quran dengan menjaga al-Quran di dalam dada kita dengan menghapalnya. Kita harus senantiasa menjaga pekan-pekan tarbiyah dan memperbaiki aqidah. Apa itu aqidah?”



Lalu kami menjawab, “Keyakinan.”



“Aqidah adalah yakin yang tidak dilandasi keraguan sedikit pun darinya,” tambah murobbiyahku.



“Jadi, Ukhti, jangan pernah merasa aman dengan diri kita hari ini.”



Itulah akhir dari muqaddimah tarbiyah sebelum kami memasuki materi. Ya, memang benar, setiap orang bisa saja mengalami futur (menurunnya kadar keimanan). Meskipun ia orang yang menguasai ilmu agama, futur bisa saja menjangkitinya. Dan itu betul-betul terjadi. Bisa saja terjadi ketika kita malas membaca al-Quran, kita lebih banyak mendengar nasyid daripada murottal, kita lebih suka disibukkan dengan berpikir tentang masa depan di dunia dibandingkan berdzikir, dan lain-lain. Maka mari kita masing-masing bermuhasabah. Mungkin saja saat ini kita dalam keadaan futur tanpa kita sadari....



Semoga ALLAH Azza wa Jalla melindungi kita dari futur....



WaLLAHU a’lam...